Seni Berhenti Menyalahkan Keadaan dari Nrimo ing Pandum dan Rawe-Rawe Rantas - Klik Media 9

Breaking

Kamis, 28 Mei 2026

Seni Berhenti Menyalahkan Keadaan dari Nrimo ing Pandum dan Rawe-Rawe Rantas

Ilusi kesibukan dan krisis pengelolaan diri.
Sumber: IsiMS / Getty Images

Sering kali, kita terjebak dalam ilusi ekspektasi dan kesibukan yang keliru. Di bangku kuliah, kita terbiasa sibuk merancang makalah, menyusun rentetan program kerja organisasi, dan berdebat tentang cara pandang dunia. Namun, ketika realitas kehidupan yang sebenarnya menghantam dengan munculnya revisi skripsi tak kunjung menemukan titik terang, puluhan lamaran kerja hanya berbalas penolakan, atau karier setelah lulus terasa jalan di tempat. Banyak di antara kita yang tiba-tiba lumpuh dan kehilangan arah. Pikiran kita penuh dengan visi besar kebangsaan, tetapi pada penghujung hari, realitasnya menampar keras menjadikan kita kewalahan menghadapi hidup kita sendiri.


Di titik inilah kebingungan berubah menjadi kemarahan. Kekecewaan datang, bukan karena dunia ini terlalu kejam, melainkan karena kita gagal mengelola diri kita sendiri di tengah tekanan.


Anehnya, saat kegagalan itu terjadi, insting pertama kita bukanlah bercermin, melainkan mencari kambing hitam. Budaya menyalahkan ini seolah diwariskan terus-menerus dan terprogram di bawah sadar masyarakat kita. Sejak kecil, kita lebih sering diajarkan mencari siapa yang salah dibanding memahami apa yang salah. Dulu waktu kita masih kecil, ketika kita jatuh, yang dipukul adalah lantainya. Setelah remaja, ketika bermain bulu tangkis dan kalah, yang disalahkan adalah raket atau arah anginnya.


Mentalitas "menyalahkan angin" ini terbawa sampai kita dewasa dan bergelar sarjana. Saat target akademik hancur, yang disalahkan adalah dosen atau birokrasi kampus. Saat sulit mendapatkan pekerjaan atau terhimpit krisis finansial, kita dengan mudah menunjuk keluar. Kita menyalahkan "orang dalam", menyalahkan pemerintah, menyalahkan sistem ekonomi, atau menyalahkan nasib. Kita menuntut keadilan dari dunia, tetapi terlalu takut mengakui satu kebenaran yang paling fundamental yaitu bahwa krisis terbesar kita hari ini bukanlah sekadar krisis sistem di luar sana, melainkan krisis dalam mengelola diri kita sendiri.


Di sinilah kita perlu memanggil kembali kearifan leluhur Jawa yang sering disalahartikan ialah Nrimo ing pandum.

Ilustrasi Ketenangan dan Eksekusi (Nrimo & Rawe-Rawe Rantas)
Sumber: Gemini Ai Ilustration

Banyak orang mengira nrimo adalah wujud kepasrahan buta dan menjadi sebuah alasan pembenar untuk menyerah pada keadaan. Padahal, esensi sejati dari nrimo adalah keberanian untuk mengakui realitas secara telanjang tanpa ilusi dan tanpa ego. Jika hari ini kita harus menerima kenyataan tertinggal dari teman-teman seangkatan, lulus terlambat, atau berulang kali gagal menembus persaingan dunia kerja, maka terimalah itu sebagai fakta. Akui bahwa kapasitas, kompetensi, atau kedisiplinan kita memang baru sampai di situ. Tidak perlu mencari alasan, tidak perlu menyalahkan keadaan.


Namun, refleksi tidak boleh berhenti di titik penerimaan. Leluhur kita menyambungnya dengan semangat perjuangan yaitu Rawe-rawe rantas, malang-malang putung.


Jika ada akar yang menghalangi jalan, tebas. Jika ada rintangan yang melintang, potong. Dalam konteks pengelolaan diri, ini adalah panggilan untuk mengeksekusi disiplin dengan kejam. Jika kemalasan, gengsi memilih pekerjaan, zona nyaman, dan ketakutan mengambil risiko adalah akar yang menghalangi kemajuan kita, maka akar itu harus ditebas dari pikiran kita sendiri. Kalau ada jalan untuk meningkatkan skill dan memperbaiki nasib, tempuh. Kalau tidak ada jalan, buat jalan itu sendiri.


Keberanian sejati bukanlah semata-mata saat kita berdiri berteriak menuntut perubahan dari penguasa atau dunia. Keberanian sejati adalah saat kita berani duduk dalam hening, menatap kelemahan diri sendiri, dan memutuskan untuk memperbaikinya tanpa mencari satu pun alasan.


Dunia mungkin memang penuh dengan ketidakpastian dan ketidakadilan. Tetapi, sebelum kita bermimpi merombak tatanan sosial masyarakat atau menyatukan barisan bangsa yang terpecah, ada satu pertempuran yang harus kita menangkan terlebih dahulu yaitu pertempuran menaklukkan ego dan diri sendiri. Sebab, sebagai manusia yang terdidik, pada akhirnya kita hanya punya dua pilihan. Pertama, terus menjadi korban dari keadaan yang kita keluhkan, atau kedua, bangkit menjadi orang yang ikut mengubah keadaan.


Bagaimana menurutmu?
Kamu memilih yang mana? Yang pertama atau yang kedua? Dan berikan alasannya.
(Tulis jawabanmu di kolom komentar)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar