| Ilusi kesibukan dan krisis pengelolaan diri. Sumber: IsiMS / Getty Images |
Sering kali, kita terjebak dalam ilusi ekspektasi dan kesibukan yang keliru. Di bangku kuliah, kita terbiasa sibuk merancang makalah, menyusun rentetan program kerja organisasi, dan berdebat tentang cara pandang dunia. Namun, ketika realitas kehidupan yang sebenarnya menghantam dengan munculnya revisi skripsi tak kunjung menemukan titik terang, puluhan lamaran kerja hanya berbalas penolakan, atau karier setelah lulus terasa jalan di tempat. Banyak di antara kita yang tiba-tiba lumpuh dan kehilangan arah. Pikiran kita penuh dengan visi besar kebangsaan, tetapi pada penghujung hari, realitasnya menampar keras menjadikan kita kewalahan menghadapi hidup kita sendiri.
Di titik inilah kebingungan berubah menjadi kemarahan. Kekecewaan datang, bukan karena dunia ini terlalu kejam, melainkan karena kita gagal mengelola diri kita sendiri di tengah tekanan.
Anehnya, saat kegagalan itu terjadi, insting pertama kita bukanlah bercermin, melainkan mencari kambing hitam. Budaya menyalahkan ini seolah diwariskan terus-menerus dan terprogram di bawah sadar masyarakat kita. Sejak kecil, kita lebih sering diajarkan mencari siapa yang salah dibanding memahami apa yang salah. Dulu waktu kita masih kecil, ketika kita jatuh, yang dipukul adalah lantainya. Setelah remaja, ketika bermain bulu tangkis dan kalah, yang disalahkan adalah raket atau arah anginnya.
Mentalitas "menyalahkan angin" ini terbawa sampai kita dewasa
dan bergelar sarjana. Saat target akademik hancur, yang disalahkan adalah dosen
atau birokrasi kampus. Saat sulit mendapatkan pekerjaan atau terhimpit krisis
finansial, kita dengan mudah menunjuk keluar. Kita menyalahkan "orang
dalam", menyalahkan pemerintah, menyalahkan sistem ekonomi, atau
menyalahkan nasib. Kita menuntut keadilan dari dunia, tetapi terlalu takut
mengakui satu kebenaran yang paling fundamental yaitu bahwa krisis terbesar
kita hari ini bukanlah sekadar krisis sistem di luar sana, melainkan krisis
dalam mengelola diri kita sendiri.
Di sinilah kita perlu memanggil kembali kearifan leluhur Jawa yang
sering disalahartikan ialah Nrimo ing pandum.
| Ilustrasi Ketenangan dan Eksekusi (Nrimo & Rawe-Rawe Rantas) Sumber: Gemini Ai Ilustration |
Banyak orang mengira nrimo adalah wujud
kepasrahan buta dan menjadi sebuah alasan pembenar untuk menyerah pada keadaan.
Padahal, esensi sejati dari nrimo adalah
keberanian untuk mengakui realitas secara telanjang tanpa ilusi dan tanpa ego.
Jika hari ini kita harus menerima kenyataan tertinggal dari teman-teman
seangkatan, lulus terlambat, atau berulang kali gagal menembus persaingan dunia
kerja, maka terimalah itu sebagai fakta. Akui bahwa kapasitas, kompetensi, atau
kedisiplinan kita memang baru sampai di situ. Tidak perlu mencari alasan, tidak
perlu menyalahkan keadaan.
Namun, refleksi tidak boleh berhenti di titik penerimaan. Leluhur kita
menyambungnya dengan semangat perjuangan yaitu Rawe-rawe rantas, malang-malang
putung.
Jika ada akar yang menghalangi jalan, tebas. Jika ada rintangan yang
melintang, potong. Dalam konteks pengelolaan diri, ini adalah panggilan untuk
mengeksekusi disiplin dengan kejam. Jika kemalasan, gengsi memilih pekerjaan,
zona nyaman, dan ketakutan mengambil risiko adalah akar yang menghalangi
kemajuan kita, maka akar itu harus ditebas dari pikiran kita sendiri. Kalau ada
jalan untuk meningkatkan skill dan
memperbaiki nasib, tempuh. Kalau tidak ada jalan, buat jalan itu sendiri.
Keberanian sejati bukanlah semata-mata saat kita berdiri berteriak
menuntut perubahan dari penguasa atau dunia. Keberanian sejati adalah saat kita
berani duduk dalam hening, menatap kelemahan diri sendiri, dan memutuskan untuk
memperbaikinya tanpa mencari satu pun alasan.
Dunia mungkin memang penuh dengan ketidakpastian dan ketidakadilan.
Tetapi, sebelum kita bermimpi merombak tatanan sosial masyarakat atau
menyatukan barisan bangsa yang terpecah, ada satu pertempuran yang harus kita
menangkan terlebih dahulu yaitu pertempuran menaklukkan ego dan diri sendiri.
Sebab, sebagai manusia yang terdidik, pada akhirnya kita hanya punya dua
pilihan. Pertama, terus menjadi korban dari keadaan yang kita keluhkan, atau kedua,
bangkit menjadi orang yang ikut mengubah keadaan.
Kamu memilih yang mana? Yang pertama atau yang kedua? Dan berikan alasannya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar